Islam Fitrah
Di Post Oleh: Humas STIT Tanggal: 16/11/2021 Di Baca20 kali

Di sebuah pengajian di Batusangkar, seorang Ibu bertanya bagaimana menjawab pertanyaan anaknya yang masih berusia sekitar 8 atau 9 tahun. Diantara pertanyaan anaknya adalah: "Ma, kenapa Allah menciptakan orang kafir lalu kemudian Dia siksa mereka di neraka? Kenapa tidak Dia ciptakan semua manusia beriman?" Di kesempatan lain si anak juga bertanya, "Ma, orang yang pahalanya lebih banyak dari dosanya kan di surga, dan orang yang dosanya lebih banyak dari pahalanya kan di neraka. Nah, kalau pahalanya dan dosanya sama banyak dimana nanti tempatnya?"

Sebelum menjawab pertanyaan Ibu itu saya mengapresiasi anaknya yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan 'besar' itu. Saya juga minta Ibu tersebut untuk membuka ruang yang luas untuk anaknya melontarkan berbagai pertanyaan 'berani' seperti itu.

***

Saya yakin, banyak pertanyaan-pertanyaan 'berani' dan 'tidak biasa' dilontarkan anak-anak pada orang tuanya. Bahkan dulu ketika kita berada di usia itu, kita juga punya banyak pertanyaan yang sama atau bahkan lebih berani yang tak jarang membuat orang tua dan guru kita bingung atau bahkan kesal.

Tapi pertanyaan-pertanyaan 'besar' itu secara perlahan terpinggirkan, bahkan hilang sama sekali. Tak jarang seorang anak, atau mungkin kita juga dulu, mendapatkan respon yang tidak 'membahagiakan' dari orang yang ditanya, baik orang tua maupun guru. Jawaban-jawaban seperti, "Itu tidak boleh dipertanyakan. Yakini saja," atau, "Kamu masih kecil, belum saatnya menanyakan hal itu," dan sebagainya sering ia dapatkan atas rasa keingintahuannya. Akhirnya ia diam. Bungkam. Tidak mau lagi atau berani bertanya. Bahkan sekedar untuk memikirkannya saja takut atau enggan.

***

Sesungguhnya apa yang ditanyakan oleh anak Ibu itu dan anak-anak lain seusianya merupakan cerminan dari fitrah yang suci semula jadi. Fitrah yang bersih, belum terkontaminasi. Fitrah yang lurus, bukan yang sudah menjurus. Fitrah yang merupakan hakikat dari Islam itu sendiri.

Fitrah manusia yang selalu mempertanyakan keadilan, kemana semua akan berakhir, siapa yang berada di balik drama kehidupan ini, kenapa begini dan kenapa begitu, dan sebagainya.

Ketika berbagai pertanyaan polos itu dibungkam dan dimentahkan, maka fitrahnya akan terganggu. Ketika rasa ingin tahunya dimatikan maka ia akan kehilangan daya kritis. Ia akan terima saja semua yang diajarkan kepadanya atau bahkan didoktrinkan, tanpa berani bertanya kenapa begini kenapa begitu. Kalau sudah demikian, ia yang semula mempertanyakan hal-hal besar itu berubah menjadi mempertanyakan orang-orang yang mempertanyakan hal-hal itu.

Ketika ia diajak berpikir dan menganalisa ia akan berkata, "Agama ini bukan untuk 'diakali'. Abaikan akal ketika berhadapan dengan nash." (Entah bagaimana caranya memahami nash kalau akal dikesampingkan).

Inilah sesungguhnya benih dari ta'ashub (fanatik) dan taqlid (ikut saja), meskipun slogan yang sering digembar-gemborkan adalah "Jangan fanatik... Jangan taqlid...".

Seorang penyair Arab berucap :

***

Di zaman dimana setiap kelompok mengkampanyekan kelompoknya, setiap ittijah mempromosikan tokoh-tokohnya, kita perlu kembali kepada Islam yang fitri, atau bisa kita sebut dengan Islam Fitrah (????? ??????). Islam yang menjadikan fitrah sebagai tolok ukur, pedoman dan pemandu. Bukan Islam yang didasarkan kepada ras (Arab dan non-Arab) demografi (Asia atau Nusantara), wilayah (perkotaan dan pedesaan) dan sebagainya.

Islam pada hakikatnya adalah perpaduan antara rasa dan akal. Itu kenapa seseorang baru akan diberikan beban (taklif) saat ia mencapai usia baligh. Pada usia ini, rasa yang dibawa sejak lahir dipandu oleh akal yang secara perlahan mulai matang. Baligh adalah titik temu yang sangat harmonis antara rasa dengan akal.

Islam fitrah adalah Islam yang murni (pure), Islam yang menolak segala bentuk ketidakadilan, Islam yang mengakui hak akal untuk bertanya, Islam yang berpihak pada kemandirian (istiqlaliyyah), Islam yang mengapresiasi rasa ingin tahu dan menghargai perbedaan sudut pandang. Islam seperti ini yang akan diterima oleh setiap manusia karena ia sesuai dengan fitrah.

***

Kalau ada yang menolak Islam, kemungkinannya hanya ada dua :

Pertama, fitrah orang itu yang sudah terkontaminasi.

Atau kedua, Islam yang dikenalnya bukan Islam yang Fitrah.

(YJ)

Top