Ketika Seorang ‘Buya’ Mempertanyakan Eksistensi Abu Hurairah
Di Post Oleh: Humas STIT Tanggal: 09/11/2021 Di Baca150 kali

Di awal pertemuan beberapa mata kuliah yang saya ampu, saya selalu mendiskusikan dengan para mahasiswi (saya mengajar di STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang yang seluruh mahasiswanya adalah mahasiswi) tentang mashadir al-mar’rifah (resourche of knowledge) ; sumber ilmu pengetahuan ; darimana manusia memperoleh ilmu pengetahuan.

Sumber ilmu pengetahuan itu ada tiga :

 akal

 panca indera

 informasi

Ketiga sumber ilmu pengetahuan itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun ketiganya saling melengkapi dan menguatkan.

Untuk sumber yang ketiga ; khabar atau informasi, secara bahasa ia berarti sesuatu yang mengandung potensi benar dan salah. Ia bisa jadi benar dan bisa jadi salah.

Tapi ada khabar yang sampai ke batas yang disebut mutawatir. Informasi dalam kategori ini tidak mungkin lagi diragukan kebenarannya. Meragukan kebenarannya sama saja dengan meragukan akal sehat.

Misal, kita memang tidak pernah bertemu langsung dengan sosok yang bernama Pangeran Diponegoro (sumber kedua; panca indera). Secara logika (sumber pertama; akal) , adanya sosok yang bernama Pangeran Diponegoro tidaklah sesuatu yang bersifat niscaya. Artinya, sosok tersebut bisa jadi pernah ada dalam sejarah dan bisa jadi juga tidak pernah ada dalam sejarah.

Tapi informasi yang sangat banyak tentang sosok tersebut, sejarah perjuangannya, benteng dan senjata yang disebut-sebut sebagai warisan jihadnya, kisah-kisah heroiknya yang diceritakan orang-orang yang pernah bertemu dengannya lalu disampaikan pada anak cucu, dari generasi ke generasi berikutnya, ini semua menjadi fakta yang tidak terbantahkan bahwa sosok Pangeran Diponegoro pernah ada dalam sejarah. Ia bukan tokoh fiktif. Bahwa ada cerita yang dibuat-buat tentang dirinya, mungkin saja. Tapi ini tidak membuat kita meragukan eksistensi tokoh tersebut.

Bahasan ini bisa dikatakan sebagai a,b,c,d ilmu pengetahuan. Ia menjadi dasar dan pondasi awal. Ketidakpahaman tentang hal ini sangat membahayakan piramida keilmuan yang ingin dibangun. Tidak saja kredibilitas sebuah ilmu akan dipertanyakan, ‘bangunan’ ilmu tersebut bisa saja runtuh kapan saja.

***

Sebuah dialog yang membawa tema “Dialog Kebangsaan” dengan narasumber dua orang kiyai. Yang satu kiyai yang biasa dipanggil Buya (BS). Yang kedua kiyai yang biasa dipanggil Gus (GM).

Yang mengejutkan, khususnya bagi saya pribadi, adalah pernyataan BS di menit ke 23 : “Abu Hurairah ini, apa orangnya ada, apa lembaga (lembaga produsen hadits)?”

Ia mempertanyakan eksistensi Abu Hurairah karena hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sangat banyak. Bahkan ada hadits yang menurut BS adalah privasi Nabi yang tidak boleh dibicarakan.

Tidak hanya itu. Ia juga menilai bahwa Sirah yang ditulis oleh Ibnu Ishaq sifatnya ‘by order’ (pesanan) untuk mencari legalitas historis bagi Daulah Abbasiyah.

***

Sesungguhnya syubuhat (kerancuan pemikiran) seputar sosok Abu Hurairah ra sudah lama dilontarkan, terutama oleh para orientalis, baik orientalis Barat (terutama yang berkebangsaan Yahudi) seperti Goldziher, maupun orientalis Arab yang mengekor pada orientalis Barat seperti Abu Rayyah.

Tapi yang sangat menyedihkan, BS selangkah lebih ‘maju’ dari para orientalis itu.

Kalau para orientalis, bahkan yang paling ‘sangar’ sekalipun seperti Goldziher, ‘hanya’ meragukan kredibilitas hadits-hadits yang diriwayatkan oleh dan dari Abu Hurairah, atau berbagai kontradiksi yang terdapat dalam berbagai riwayatnya, BS lebih ‘hebat’ lagi. Ia malah meragukan eksistensi Abu Hurairah. Ia mempertanyakan apakah sosok Abu Hurairah ini pernah ada dalam sejarah, atau jangan-jangan nama ‘Abu Hurairah’ hanyalah sebuah brand sebuah lembaga yang fungsinya memproduk hadits. La haula wala quwwata illa billah.

***

Ketika saya dikirimkan potongan video dialog tersebut oleh seorang tokoh pendidikan Sumatera Barat, saya sangat kaget dan hampir tak percaya. Apakah mungkin pernyataan seperti ini keluar dari seorang yang sudah dipanggil ‘Buya’? Saya kemudian mencek video itu di YouTube. Ternyata benar. Video itu di-upload setahun yang lalu. Saya berharap BS sudah rujuk dari pernyataan itu. Karena mempertanyakan eksistensi seorang sahabat seperti Abu Hurairah sama artinya membantah sesuatu yang mutawatir.

***

Ketika seorang alim, atau orang yang dianggap alim keliru (zallah), apalagi tersesat, maka yang akan tersesat bukan hanya dirinya sendiri melainkan umat yang mendengarkannya.

Suatu ketika Tamim ad-Dari meminta izin pada Umar bin Khattab untuk menyampaikan ceramah. Umar mengizinkan. Dalam ceramah itu, Tamim berkata :

“Waspadalah tergelincirnya seorang alim.”

Mendengar itu Umar berkata pada Ibnu Abbas yang juga hadir di sana, “Kalau ia sudah selesai, tanyakan padanya apa yang ia maksud dengan ‘tergelincirnya seorang alim’?”

Selesai Tamim berceramah, Ibnu Abbas menanyakan apa yang diminta oleh Umar tadi. Tamim berkata:

“Seorang alim ketika tergelincir maka ia juga akan menggelincirkan manusia lain, dan itu akan diambil (jadi pijakan). Boleh jadi alim itu bertaubat dan rujuk, namun orang-orang sudah terlanjur mengambil hal yang salah itu darinya.”

Meski demikian, kita tetap berharap ia rujuk dari pernyataan tersebut dan menyampaikannya secara terbuka di berbagai media.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dan al-Baihaqi, dan dinilai sebagai hadits yang sangat lemah oleh para ulama hadits, bahkan diantara rawinya ada yang dicap sebagai pembohong, disebutkan :

“Waspadalah tergelincirnya seorang alim dan tunggulah ia rujuk.”

Secara sanad haditsnya memang sangat lemah, atau bahkan palsu, tapi secara makna (substansi) hadits ini masih menyisakan harapan bahwa seorang alim yang keliru dan tergelincir akan rujuk dari kesalahannya.

Apalagi kekeliruan yang sangat fatal seperti yang dilakukan BS dengan meragukan eksistensi seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits. Kalau sosoknya saja diragukan apalagi hadits-hadits yang datang dari jalurnya. Kalau sahabat se-populer Abu Hurairah ra saja diragukan apalagi sahabat-sahabat lain yang tidak se-populer dirinya. Ketika sahabat sebagai pembawa (naqalah) ajaran Islam diragukan, ini bisa menjadi batu loncatan untuk meragukan Islam itu sendiri. Semoga itu tidak terjadi.

[YJ]

Top