Kunjungan Peneliti Pendidikan dari TUNISIA ke Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang
Di Post Oleh: Operator STIT Tanggal: 21/06/2020 Di Baca30 kali

Islam Corak Indonesia Untuk Dunia

Kunjungan Peneliti Pendidikan Tunisia ke Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang

 

“Orang mengenal tiga icon pembaharu Islam; Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Pembaruan yang mereka lakukan memberikan warna yang sangat kental terhadap corak pemikiran Islam di dunia Arab dan dunia Islam secara umum. Tapi dunia Islam, terutama dunia Arab, tidak banyak tahu corak pembaruan Islam di Indonesia. Dan, dari pengamatan saya, corak Islam di Indonesia yang berangkat dari nilai-nilai kearifan lokal layak untuk disajikan kepada dunia Islam secara global.”

Kalimat-kalimat bernas itu dilontarkan oleh seorang pakar pemikiran dan pendidikan dari Tunisia saat berkunjung ke Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang

Ia adalah Prof. Moncef ben Abdel Jalil mantan penasehat Menteri Pendidikan Tunisia dan Dekan Fakultas Humaniora Universitas Sousah – Tunisia, serta Dosen tamu di berbagai universitas ternama dunia seperti Stanford Kanada, Berlin – Jerman, Sorbonne Paris, dan saat ini di London. Ia yang ditugasi oleh Pemerintah Tunisia kala itu untuk melakukan reformasi (ishlah) terhadap Universitas az-Zaitunah, salah satu universitas tertua di dunia setelah al-Qarawiyyin di Maroko. Ia datang bersama isterinya Dr. Safiya Qam yang juga seorang novelis dan ahli sastra Arab yang telah melahirkan puluhan karya dalam bidang sastra.

Ketika saya mengekspos profil Perguruan Diniyyah Puteri, tampak ia mencatat dengan begitu teliti sejarah berdirinya Perguruan Diniyyah Puteri dan sosok sang pendiri Bunda Rahmah el-Yunusiyyah. Ia sangat kagum, saat dimana hak-hak wanita terabaikan bahkan diinjak-injak, Rahmah muda berusia 23 tahun mampu mendobrak itu dengan aksi nyata yaitu mendirikan perguruan khusus puteri pertama di Indonesia.

Prof Moncef sangat ingin mendalami dan meneliti lebih jauh budaya dan corak beragama di Indonesia. Ia bahkan mengutarakan niatnya pada pendampingnya, Dr. Andri Rosadi, yang menjadi penyebab kunjungannya ke Diniyyah, untuk menetap selama satu tahun di salah satu pesantren Indonesia guna mengenal lebih dekat seluk beluk kepesantrenan.

Ia meyakini bahwa model keislaman di Indonesia mesti dikenalkan ke dunia Islam secara global. Walaupun ia mengakui akan ada dua hambatan utama yang akan ia hadapi, pertama; dari segi bahasa (karena ia tidak menguasai bahasa Indonesia), kedua; bagaimana meyakinkan dunia internasional untuk melihat dan mengkaji potret Islam di Indonesia yang bersifat lokal untuk diakomodir secara global. Tapi ia bertekad akan melakukan tugas itu. Bahkan, isterinya yang seorang penulis akan mencatat Indonesia dan Sumatera Barat di dalam karya-karyanya untuk disebarkan di dunia Arab.

Perbincangan saya dengan beliau menjadi menarik ketika saya membuka diskusi tentang karya-karya Mufassir terkemuka abad ini dari Tunis; Imam Thahir bin ‘Asyur dan ide-ide pembaharuannya dalam bidang pemikiran dan pendidikan. Ternyata Prof. Moncef memiliki kedekatan khusus dengan anak cucu Imam Ibnu ‘Asyur.

Di akhir perbincangan saya mencoba melobi kemungkinan para santri dan mahasiswi Diniyyah Puteri bisa melanjutkan studi di Tunisia, baik di az-Zaitunah sendiri maupun di beberapa universitas lainnya. Beliau menyambut positif keinginan itu. Beliau bahkan sudah membicarakan hal itu dengan Dubes RI di Tunisia. Insya Allah kerjasama lebih formal akan kita follow-up dengan Tunisia. Sebelum melanjutkan perjalanan, beliau berkata: “Saya tunggu Anda di Tunisia.” Insya Allah Prof…

 

Top