Tokoh ulama perempuan masih langka dikaji, tidak hanya di Indonesia, bahkan juga di Afrika, Afrika Utara, Asia Barat, India, dan Jazirah Arabia. Padahal banyak para ulama perempuan yang telah memiliki andil besar dalam keilmuan islam dan kehidupan berbangsa serta bernegara. Hal tersebut disampaikan oleh Ibu Syarifatul Hayati, Lc, MA dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh UIN Imam Bonjol Padang dalam rangka Dies Natalis yang ke 56 tahun. Ibu Syarifatul, sebagai salah seorang pemakalah mempresentasikan makalah dengan judul “Ulama Perempuan di Indonesia: Pemikiran Huzaemah Tahido Yanggo” di hadapan ratusan perserta seminar yang terdiri dari guru besar, cendikiawan, dosen, peneliti, tenaga pendidikan, dan mahasiswa yang hadir. Ibu Syarifatul menguraikan bahwa Huzaemah Tahido Yanggo memiliki peran besar dalam ilmu fiqh, terutama dalam kajian anak, perempuan, pernikahan dan keluarga. Pemikiran Huzaemah menunjukkan bahwa islam tidak mendiskriminasi wanita, melainkan sebaliknya, Islam memberikan hak-hak kepada perempuan dalam kehidupan keluarga, sosial, dan bernegara.

Seminar Nasional yang bertema “Ulama Dalam Masyarakat Yang Berubah: Dulu, Kini dan Esok” dilaksanakan dengan latar belakang pemikiran tentang pentingnya tema keulamaan didiskusikan dan dikembangkan, apalagi kampus UIN Imam Bonjol Padang merupakan kampus yang berperan untuk mencetak ulama. Hal ini disampaikan oleh Bapak Dr. Yasrul Huda, MA dalam menyampaikan laporan sebagai Ketua Panitia Seminar Nasional. Menurut Bapak Yasrul Huda, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor I UIN Imam Bonjol Padang, tema keulamaan mesti menjadi perhatian besar terutama oleh perguruan tinggi keislaman dalam upaya mencetak generasi Islam.

Sementara itu, dalam sambutannya Ibu Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd menyampaikan  bahwa kata “Imam” dalam nama kampus UIN Imam Bonjol, menjadi inspirasi kepada kampus agar UIN hendaknya mampu mencetak mahasiswa yang kelak menjadi imam, yakti imam bagi umat dan warga negara Inonesia. Menurut Ibu Prof. Martin, peran ulama dalam kemerdekaan Indonesia sangat kuat. Saat ini juga hendaknya ulama berpartisipasi aktif untuk menjalin keharmonisan umat beragama di Indonesia. Kehadiran ulama menjadi salah satu benteng bagi umat untuk menebar kebaikan, mengembangkan ilmu dan menanamkan cinta tanah air dan bangsa. Dalam sambutannya, Ibu Prof. Martin juga menyampaikan bahwa ulama perempuan juga memiliki peran yang besar di Indonesia, seperti Rahmah El Yunusiyyah yang mendirikan lembaga pendidikan Islam khusus perempuan, yaitu Diniyyah Puteri di Padang Panjang pada 1 November 1923.

Seminar Nasional dilaksanakan pada hari Kamis 24 November 2022 di Auditorium Prof Mahmud Yunus UIN imam Bonjol Kampus II Lubuk Lintah Padang.  Acara dimulai pada jam 08.30 hingga jam 16.00 WIB. Terdapat empat pembicara utama dalam Seminar Nasional, yaitu Prof. Dr. Jajat Burhanuddin, M.Pd (UIN Syahid Jakarta), Dr. Ahmad Suaedy, MA (UNUSIA Jakarta),  Prof. Dr. Awis Karni, M.Ag (UIN IB Padang) dan Prof. Nelmawarni, Ph.D (UIN IB Padang). Selain empat pembicara, ada dua belas pemakalah yang memberikan materi terkait dengan keulamaan di Indonesia. Seminar Nasional ini diharapkan dapat memberikan semangat dan pemikiran baru kepada para cendikiawan, peneliti dan dosen untuk terus mengembangkan dan mempublikasikan kajian-kajian keulamaan di Indonesia.
(Taufik Rahman/ Jurnalis STIT Diniyyah Puteri)